Empati yang salah

Oktober 23, 2026

 aku tidak tahu lagi bagaimana berhadapan dengan orang yang punya empati tapi kepada pihak yang salah. Aku bertemu orang tersebut dikehidupan nyataku, aku melihat bagaimana ia misuh-misuh, kesal bahkan menangis akibat menonton fypnya yang lebih membela pejabat daripada rakyat yang menderita. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa begitu? Akupun juga tidak mau bertanya kepadanya, karena jujur aku juga dilanda emosi karena misuh-misuhnya menggunakan kata-kata yang jelek. Aku yakin itu akan menghabiskan energiku saja, itulah kenapa aku hanya diam dan menceritakan perasaanku disini.

Mungkin dia ingin bersikap positif terhadap kinerja pemerintah, mungkin dia selama ini mengonsumsi hal-hal baik kinerja pemerintah itulah kenapa ia tidak terima. Aku tidak tahu kenapa, dan aku pun juga tidak tahu harus bagaimana menghadapi orang berisik seperti dia. Berisik yang ganggu dan bodoh, karena ia misuh-misuh yang terdengar oleh telinga indahku ini. 

Menurutku saat ini tidak ada lagi yang namanya 01,02,03. Masyarakat saat ini hanya mengkritisi kinerja pejabat yang banyak tidak becus. Kita sedang dimiskinkan secar struktural, UMR rendah, pajak yang besar, BBM mahal, pendidikan dan kesehatan makin tidak terjangkau. Inilah bukti bahwa pemerintah tidak berhasil menciptakan kehidupan rakyat yang layak. Wajar masyarakat menyuarakan hal ini karena berhak menyampaikan pendapat, dan apalagi gaji-gaji para pejabat ini berasal dari pajak yang kita bayar. Tentu masyarakat heboh, hal seperti ini saja kamu tidak mau memahami, kamu masih membela pejabatmu itu? mereka tanpa kamu bela pun juga sudah kaya. Makanya kami tidak terima mereka ketawa petantang petenteng, ngomong kasar di publik, dan bahkan secara gamblang terpampang jelas kelakuan busuk mereka sudah bisa kita lihat diberita saat ini. Aku bingung kenapa kamu tidak bisa menerima itu? Apa yang terjadi pada hati mungilmu itu sampai kamu tersedu-sedu melihat orang-orang memaki-maki idolamu itu? atau kamu dibayar untuk itu?

Aku muak dengan orang-orang sepertimu, apalagi berisik yang bodoh didekatku. Kalau mau berisik atau masih merasa pendapatmu itu benar, tolong jangan berada dilingkunganku. Aku yakin semua orang punya empati yang logis terhadap hal ini, dan aku sangat kecewa kamu berada di empati yang salah.